Menentukan Batas Toleransi, Menjaga Kewarasan Diri

March 16, 2019



Seringkali aku mendengar orang bilang, "Kalau kesabaran ada batasnya, itu namanya bukan 'sabar'."
Bagi sebagian orang, kesabaran itu berbanding lurus dengan keluasan hati. Mungkin jika digambarkan luasnya seperti tidak ada batas horizon di lautan sana.

Mungkin saja benar. Kesabaran itu nggak ada jatahnya untuk habis. Tapi, aku orang yang tidak setuju dengan konsep itu. Bagiku kesabaran itu tidak ada batasnya, namun tiap kita punya toleransinya masing-masing. Bagiku, batas toleransi lebih manusiawi ketimbang batas kesabaran.

Berapa banyak dan berapa lama kita merelakan diri kita berada dalam lingkungan yang beracun dan menghambat diri kita bertumbuh lebih baik? Bagiku, itu namanya batas toleransi. Bukan berarti aku tidak bersabar. Kalau dikata tidak bersabar, hey, aku sudah bertahan dalam hitungan tahun, bukan lagi bulan.

Berapa lama kita berusaha mendinginkan hati setelah hari-hari dan bulan-bulan tersiksa karena  perasaan tidak dilibatkan dan terbuang? Bagiku, itu namanya batas toleransi. Bukan berarti aku tidak bersabar, tapi aku menghargai diriku sendiri untuk tidak terus-terusan berada dalam gelimang perasaan tidak berguna yang diciptakan orang lain.

Berapa lama kita berusaha memahami dan mengerti perilaku seseorang yang buruk di balik segala permakluman? Sebelum akhirnya move on, aku berusaha memahami kalau setiap orang punya masalahnya masing-masing. Tiap orang berjuang dengan hidupnya masing-masing. Tapi tiap orang pun punya hak untuk melangkah pergi dan memilih hidup yang lebih baik.

Setelah bertahun-tahun berusaha bertahan, akhirnya di tahun ini aku sadar bahwa aku harus berani, sangat berani, menolak sikap-sikap buruk orang lain yang seperti ulat menggerogoti kewarasanku. Kesadaran itu pun beriringan dengan kenyataan miris bahwa aku harus menukar hal-hal yang pernah kuraih dan kuciptakan dengan berjam-jam di ruangan bercat hijau bersama seseorang yang mencatat satu demi satu keluh-kesahku. Di titik itu, rasanya semuanya sudah tidak berarti. Pencapaian-pencapaian yang dulu, ternyata cuma jadi dendamku yang ingin kubalaskan untuk menampar mulut-mulut dan sikap-sikap brengsek itu. Lalu, apa gunanya?

Pada akhirnya, segala keputusan itu pasti akan datang. Hanya saja tiap orang punya waktunya masing-masing.

Aku tidak menginginkan uang atau pun jabatan, pun tidak akan terlalu membela material dalam hidupku dan menukarnya dengan tekanan mental. Dan juga, aku menyadari bahwa kita tak bisa menuntut orang lain suka dengan keberadaan kita. Satu orang senang dengan kita, ratusan mungkin saja membenci.

Kita tidak bisa mengubah orang lain, mengubah suatu tempat, yang bisa kita lakukan adalah memutuskan tetap atau pergi dengan pertimbangan sebaik-baiknya. And I chose the second one. 

Di dunia orang dewasa yang makin gila ini, aku hanya ingin hidup baru, lahir baru dengan dunia yang mungkin tidak sempurna, tapi lebih baik. Melepaskan keterikatan dan beban-beban kebencian, supaya melangkah lebih ringan menyambut pintu kehidupan baru di depan mata.

Untuk siapapun yang kebetulan mendarat di postingan ini dan merasa kamu-kamu adalah orang yang kutuliskan di atas, I waving a good bye to you, Guys. Semoga sukses dengan segala rencana dan cita-citamu. Tanpa kalian, aku mungkin tidak akan merasa ditempa. Marilah menjalani hidup masing-masing. Tak disapa pun tak apa, tapi tolong jika tidak bisa membantu setidaknya tidak perlu menambah beban. Good luck, then!

Untuk siapapun yang kebetulan mendarat di postingan ini, kemudian merasa aku pernah menjadi toxic dalam hidupnya, silakan melangkah pergi dan meninggalkanku. Aku tidak akan pernah memohon orang lain untuk tetap berada dalam lingkaran setan ketidaknyamanan dan kepalsuan, karena aku sudah tahu bagaimana buruknya perasaan itu menghambat kita untuk menjadi manusia sebenar-benarnya. Feels like a living body trapped in the dead soul.

And, yeah, from now and on, I declare to leave all the darkness I've experience in the past. I've set a tolerance limit and clearing up the messy room to keep my soul healthy.

---
Di masa-masa yang sungguh tidak nyaman kemarin, Spotify jadi kawan karibku. Terutama lagu Early Reflection yang ditulis oleh teman baikku, Christabel. Salah satu lagu yang seolah menasihatiku banyak tentang segala ketakutan-ketakutanku menghadapi hidup.



"Still a lot more to learn
Never go back to the darkness
Life is never easy
But don't be afraid

The sun's still shining bright, brighter, and brighter everyday
The moon's more beautiful, every night, every night

Still got more to start
Never go back to the darkness
Life is never easy
But don't be afraid

The sun's still shining bright, brighter, and brighter everyday
The moon's more beautiful, every night, every night

Don't give up cause there's so much more waiting for you there
Just stay strong and live again just like you did that day
Like today, and today .."

*) Image taken from Pexels.com

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images