Kehidupan Akhir-akhir Ini

March 24, 2019



Kayaknya aku lama banget lho nggak menuliskan curhatan dengan nada ceria di blog ini. Di blog satunya, malah sudah jarang banget. Sebetulnya sejak Tumblr di-banned aksesnya kapan hari itu lho, jadi kehilangan tempat nyampah. Sekarang begitu sudah bisa, akunya sudah males ehehehe ...

Meskipun keliatan banyak alasan *ya memang*, aku masih rutin menulis curhatan harian kok. Untuk konsumsi pribadi, tentu saja. Bahkan karena curhatan harian itu, aku akhirnya memutuskan satu langkah besar dalam hidupku. Setelah melihat kesumpekan beberapa bulan ke belakang. Bener 'kan, nyata adanya kalau menulis itu self-healing terbaik yang manjur buatku.

Jadi, ini updatean kehidupanku akhir-akhir ini ..

Happier and more productive

Sebulanan terakhir ini, hidupku nano-nano rasanya. Setelah resign, aku merasa diriku sangat jauh lebih baik daripada sebelumnya. Happier, more productive. Setengah beban yang bikin hati kemrungsung langsung enyah.

Banyak orang yang nggak mengerti dan mengira setelah resign aku bakal menganggur. Puji Tuhan, enggak. Langsung kerja. Bedanya, kerja tanpa kantor dan menentukan waktu kerjaku sendiri. Pagi-pagi mau jogging sampai jam 8-an pun hayuk. Mau langsung kerja masih dasteran pun nggak masalah. Semua bisa dikerjakan dari rumah atau dari mana aja.

Dengan status baru sebagai freelancer gini, kadang memang ada kekhawatiran. Terutama dari segi finansial yang bakal nggak sestabil dulu. Tapi setidaknya aku sudah punya beberapa pegangan project sampai setahun ke depan yang cukup lah untuk hidup sehari-hari, nabung dan nambahin dana darurat. Tapi aku percaya kok, dengan aku resign kemarin bukannya menutup jalan rezekiku. Justru malah ngebuka pintu-pintu lain yang tertutup karena ...

Ketemu banyak orang yang seru

Mungkin karena sudah lebih lapang hatinya, kayak semesta mendukung. Aku dipertemukan dengan orang-orang baru atau pun lama yang jarang kutemui. Most of all, bringing a new perspective to me. Kenalan orang-orang yang beda kehidupannya denganku, belajar hal baru. Ketemu orang-orang yang bisa diajak kerja bareng. Rasanya hal-hal seperti ini pelan-pelan menyembuhkan luka batinku selama beberapa tahun kemarin, meskipun aku tahu memang butuh waktu dan a professional help untuk benar-benar sembuh.

Kecanduan makan terong dan tempe

Sungguh ini adalah sebuah keremehan yang baru kusadari akhir-akhir ini. Jadi, beberapa waktu belakangan ini aku tuh makan terong goreng melulu. Sampai niatin bikin sendiri, ke warung bacem Bu Rita (dulu, di hari-hari terakhir ngantor) sampe nyulik Dini buat makan siang dan aku bisa ngabisin seporsi terong crispy plus sambel belut di Raja Sambal kayak nggak makan dua hari gitu lho. Egie sampe nggak kubagiin hahahhaaha ~

Gak tau nih, aku obsessed banget sama terong goreng. Ditambah lagi sama tempe. Eh kalo tempe sudah rahasia umum ya hahaha ... Yang jelas, aku bisa tuh seminggu sampai 3-4 kali makan terong goreng, berturut-turut pun. Gila. Semoga gak ada efek samping lain sih, selainnya kenyang.

Kegiatanku sebulan ini berkisar kerja di rumah-meeting/kerja di luar-tidur-makan-nonton Youtube, begitu terus. Repeat. Makanya tambah gendats nih. Duh. Harus rajin olahraga biar nggak menggelambir karena sekarang 'kan kegiatannya statis gitu-gitu aja.




You Might Also Like

0 comments

Flickr Images