Solivagant.

October 25, 2018


"Loneliness adds beauty to life. It puts a special burn to sunsets and makes night air smell better." -- Henry Rollins

Bagi banyak orang, melakukan hal sendirian itu terkadang terasa miris. Harusnya dengan kehidupan sosialisasi yang baik, aku pun punya banyak sekali opsi melibatkan teman dalam kegiatan-kegiatanku. Melakukan kegiatan bersama-sama itu memang bikin seru, tapi semakin ke sini rasanya aku justru butuh waktu sendiri. Banyak waktu untuk sendiri, tepatnya.

Di saat sendiri, aku seperti mendetox pikiran. Jadi, kalau digambarkan secara komikal, serabut-serabut di otakku seperti bersukacita dan berpesta pora saat pintu otak ini ditutup aksesnya dari 'dunia luar'.

Sampai hari ini, aku masih merasa pikiranku begitu crowded. Bukan semata-mata karena hal esensial dalam kehidupan yang kupikirkan, tapi juga karena banyak hal yang jadi pertanyaan dan bikin sesak di kepala. Mungkin juga aku memendam beberapa rasa kesal dan kecewa yang tidak bisa kusampaikan, yang menyendat di tenggorokan. Ibarat saluran air, sedang buntu karena banyak sumbatan dan perlu 'dibersihkan' supaya mengalir dan jernih lagi.

Menulis daily journal dan free writing sedang kulakukan akhir-akhir ini. Mengurangi konsumsi social media, tidak benar-benar bisa kutinggalkan karena terkait pekerjaan. Tapi mencoba mengurangi ocehan tak perlu atau yang tidak menyenangkan di hati. Sekarang aku sedang senang mendengarkan musik-musik bertempo lambat dan video-video orang Korea yang chill dan aesthetic. Pulang kerja pun jika tidak ada kegiatan atau memang tidak ingin berkegiatan, rumah dan kasur adalah tujuan terbaik. Atau jika tidak ingin bicara dengan siapapun, masuk kamar dan menyibukkan diri dengan membersihkan kamar, menata lemari pakaian, rak buku dan lain-lain.

Kadang timbul perasaan untuk segera membeli rumah sendiri dan tinggal sendiri. Tapi mungkin hal itu agak susah untuk kulakukan. 

Selama enam bulan terakhir ini, aku cukup sering bepergian. Untuk keperluan pekerjaan maupun keperluan pribadi. Beberapa kali dalam momen itu, aku dalam kondisi sendirian. Benar-benar sendirian. Dalam perjalanan panjang di kereta, di bandara menunggu flight atau pun memang sengaja mengambil waktu sehari sendirian, pergi dan berencana melakukan hal-hal yang kuinginkan seorang diri. And I really enjoyed it.

Sudah sejak lama aku terbiasa melakukan banyak hal sendiri. Bahkan untuk hal yang berisiko misalnya operasi dan ke UGD, aku pun berangkat sendiri. Dan meski di awalnya aku pernah merasa sedih karena pas lemas sekali saat tekanan darah ngedrop, nggak ada yang bisa diminta tolong bayar ke kasir. Sedihnya cuma pas itu sih hehehe ...

Kalau ada yang membaca ini dan mengira aku sedang depresi, tidak. Sama sekali tidak. Ini hanya fase di mana aku sedang mengalami berpikir mendalam tentang satu-dua hal dan menjalani transisi hidup. Fase yang sangat lumrah terjadi pada orang-orang di usiaku, terutama yang punya banyak rencana tapi belum bisa diwujudkan. Fase di mana ingin menata hidup yang terpontang-panting selama kurang lebih 3-4 tahun ini.

Sepulang dari perjalanan sendirianku yang terakhir dan 48 jam bicara dengan diri sendiri, akhirnya aku berani bilang, "Aku mau punya waktu buat diriku sendiri ya. Silakan kamu mulai bersiap-siap buat nggak tergantung denganku, dari sekarang."

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images