Mereka Yang Telah Selesai Dengan Dirinya Sendiri

April 14, 2018


Selamanya manusia tidak akan pernah ada habisnya mengejar ambisi untuk dirinya sendiri. Mulai dari ambisi mendapatkan jabatan tertentu di perusahaan, ambisi menjadi terkenal, ambisi kaya raya ... bahkan ambisi untuk selalu dimengerti orang lain.

Tetapi, pada akhirnya kita semua akan menemukan satu titik balik di mana dengan ikhlas hati kita meletakkan tas besar berisi segala "aku-aku-aku" itu, dan mengisinya dengan "kita". Entah bagaimana pun caranya, perlahan-lahan resleting tas besar itu dengan penuh kesadaran akan kita buka, kita keluarkan satu persatu ego diri sendiri. Secara perlahan, bahkan terkadang tanpa disadari, kita akan berkompromi dengan keadaan tanpa harus mengorbankan perasaan.

Kita tidak merasa terbawa perasaan saat tak ada teman yang bisa menemani mengobrol, tidak berusaha menjadikan diri center of attention, tidak bermanja dan merengek kala sekitar punya hal yang harus mereka selesaikan. Tidak lagi berlarut-larut dalam perasaan tak nyaman yang menenggelamkan. Kita tidak lagi terikat pada tujuan kebendaan atau pun pengakuan. Kita sudah hafal luar kepala apa saja hal-hal yang prinsipil perlu dipertahankan dan dilepaskan. Mampu menjaga diri sendiri dan menyelesaikan masalah kita sendiri tanpa membuat orang terdekat mengkhawatirkan keputusan-keputusan yang kita ambil.

Karena kita tahu, ada realita di depan yang harus dihadapi, ada urusan-urusan yang harus diselesaikan dan drama tidak mampu mengubah keadaan.

Aku sungguh sepakat dengan pendapat bahwa hal pertama yang harus dilihat dalam diri sendiri dan (calon) pasangan kita saat akan membawa hubungan ke jenjang yang lebih serius adalah soal "selesai dengan dirinya sendiri." Karena jika keduanya sama-sama membawa "bagasi", menyatukannya dalam lembaga pernikahan sama saja menyatukan dua masalah besar yang tentunya tidak semakin berkurang, malah bertambah dari hari ke hari.

Jika salah satu atau keduanya masih belum selesai dengan dirinya sendiri, maka hubungan itu akan melelahkan dan menguras perasaan karena pihak-pihak yang selalu ingin dimengerti tanpa berusaha saling mengerti.

Saat seseorang telah membereskan urusan dirinya dan perasaannya, atau telah tahu bagaimana caranya mengendalikan diri. Ego ada, bukan untuk setiap waktu diberi "makan" tanpa kendali. Perasaan yang dipimpinnya, bukan dirinya yang dipimpin oleh perasaannya. Untuk "kita" bukan untuk "aku", saat itulah dia selesai dengan dirinya sendiri.

"Kamu kapan, Wind?" | "Soon, secepatnya."


You Might Also Like

0 comments

Flickr Images