I've Learned #5: Tentang Bakti Pada Orang Tua

April 18, 2018


Banyak orang yang bisa menikmati hari-hari ditemani keluarga dengan utuh. Papa-Mama masih menemani sampai mereka punya anak-cucu. Tapi banyak juga yang tidak bisa merasakannya di usia dewasa karena orang tua sudah dipanggil Tuhan, bahkan sejak mereka masih anak-anak.

Bayangan tentang didampingi Papa saat aku jalan di altar, di hari pernikahanku, tentu saja kukubur dalam-dalam. 

Aku bukan tipikal orang yang dekat dengan keluarga, kecuali dengan Mama (dan Papa). Dan sekarang, hanya Mama yang dekat dan aku punyai, and yes, she is my reason to live and fighting for. For years after my dad passed away, I've learned:

  • Orang tua nggak pernah meminta materi darimu, tetapi di masa tuanya mereka berharap kamu bisa bertanggungjawab dengan pilihanmu. Maka itu, jangan menambah beban pikiran mereka. 
  • Meski mereka tidak pernah meminta materi, tapi jadi kepuasan tersendiri kalau kita bisa berbagi rezeki yang kita dapatkan. Entah itu seratus-dua ratus ribu sebulan, yang nominalnya sama dengan jajan-jajanmu di luar saat weekend, nonton bioskop, ngafe-ngafe.
  • Berkaitan dengan poin di atas, percayalah penghasilanmu nggak akan berkurang kok, justru membahagiakan orangtua itu berkahnya berlipat-lipat dan (menurut pengalaman pribadi), rezeki kita juga akan berlipat-lipat ganda.
  • Doa orang tua itu manjur!
  • Ada teman yang setiap minggu pulang naik motor, cewek, sendirian. Menempuh perjalanan 4-5 jam ke desanya, hanya karena "Mumpung Emak-Bapak masih hidup, masih bisa ketemu. Empat-lima jam itu nggak ada apa-apanya."
  • Restu orang tua itu wakil restunya Tuhan di dunia. 
  • Saat dewasa, segala urusan kesulitanmu carilah solusinya sendiri, jangan membuat orang tuamu kepikiran.
Seseorang pernah bercerita tentang bagaimana hubungannya dengan orangtuanya. Sejak remaja, dia memang kurang harmonis dengan kedua orangtuanya. Dia tumbuh jadi pribadi yang egois dan mengesampingkan orangtua dan keluarganya.

Setelah lulus kuliah, dia kesana kemari mencari pekerjaan dan sampai setahun selalu gagal. Semua interview kerja yang dilakoninya, selalu terhenti di tengah jalan. Hingga akhirnya di tengah kekalutannya, ia menelepon sang ibu. Ibunya memintanya supaya pulang ke rumah, barang sehari-dua hari. Diturutinya permintaan sang ibu dan saat pulang, ia meminta maaf atas segala kesalahannya di masa lalu. Seminggu setelahnya, ia dapat panggilan kerja dan sekarang sukses di karirnya dengan jabatan yang lumayan.

Hal lain yang pernah jadi topik pembicaraanku dengan beberapa teman: Ibadah kenceng, boleh. Bagus malah. Sedekah ke orang-orang yang nggak mampu, wajib. Tetapi sebelum semua itu, please take a look to your closest person. Apakah orangtuamu sudah makan hari ini? Bagaimana dengan saudaramu, apakah dia sudah berkecukupan? Bagaimana kabar mereka? Apakah kita punya waktu untuk mereka?

Kadang kita terlalu sibuk dengan kesan, tapi lupa kembali pulang ke rumah...

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images