Move On Seikhlas-ikhlasnya

March 30, 2018



Pelajaran paling sulit dalam hidup adalah perkara ikhlas. Seperti saat masih kecil dulu. Es krim yang baru berpindah tangan ke tanganku, jatuh ke tanah. Padahal belum sempat es krim itu aku nikmati. Saat itu, menangis adalah hal yang otomatis, yang menimbulkan dua opsi: dibelikan yang baru, atau dimarahi. Tapi karena tak ikhlas, sekalipun dibelikan yang baru, aku masih mengungkit-ungkit yang lama, menginginkan es krim yang sudah jatuh itu dengan sejuta perasaan sentimentil yang tertinggal bersama onggokannya di tanah yang kotor.

Pelajaran kedua soal ikhlas adalah move on. Sebetulnya, keduanya adalah paket yang tidak bisa dipisahkan. Ikhlas adalah soal penerimaan, sementara move on adalah soal melepaskan. Ikhlas tanpa move on itu timpang sebelah.

Hari-hari ini aku belajar memanage perasaanku sendiri melihat beberapa hal yang personal dalam hidupku, tiba-tiba muncul kembali. Entah lewat fitur throwback di social media, foto-foto lama yang tiba-tiba muncul atau pun yang sekian lama tidak berkabar tiba-tiba menyapa. Melihatnya, mungkin terselip perasaan nostalgia, tetapi aku tidak merasa ingin kembali ke masa itu. Itu duniaku yang lama, yang dulu mungkin aku pernah bahagia berada di dalamnya. Tapi sekarang aku punya kehidupan dan dunia yang baru, yang memang sudah seharusnya berubah.

Semua gembok-gembok dan akses-akses dari dunia lamaku, kubuka dan sudah kupersilakan untuk seliweran sesuka hati. Aku sudah tidak lagi merasa risau dan terganggu, atau pun merasa butuh membangun pertahanan apapun, demi membentengi diri atas kekhawatiran datangnya perasaan tak enak sebagai efeknya.

Sepertinya inilah yang dinamakan "move on seikhlas-ikhlasnya."

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images