Saat Ibu Me-Nunggu Teka-mu, Nak

December 17, 2017

Image taken from aiya.org.au/Mahesa Desaga

Hubungan yang paling susah digambarkan kedalamannya adalah relasi antara orangtua-anak. Bagiku pribadi, aku tidak pernah bisa menggambarkan kedekatan antara aku dan Mama, atau aku dengan almarhum Papa dengan kata-kata. Satu hal yang pasti kurasakan, dan kulihat dari sekitarku adalah semakin dewasa hubungan kami dengan orang tua masing-masing itu semakin kuat terasa. Mungkin bisa dibilang, bondingnya kembali ke saat kami masih bayi dulu, setelah melewati fase 'renggang' di usia remaja karena ego di fase itu yang masih kuat-kuatnya.

Baru-baru ini saja aku menonton film pendek "Nunggu Teka." Film ini disutradarai oleh salah satu temanku, yang juga kakak tingkatku semasa kuliah dulu, Mahesa Desaga. Sejak pertama kali aku baca reviewnya, aku seperti punya tekad bahwa aku harus bisa menginisiasi pemutaran film ini untuk 'bertemu' penontonnya yang sesungguhnya. Entah bagaimana caranya, dengan kapasitasku yang terbatas ini. Lucunya, aku padahal belum pernah nonton film ini, hanya baca reviewnya saja.

Berbulan-bulan kemudian, apa yang kutekadkan akhirnya bisa terwujud. Kemarin, Vemale menggelar acara "Quali-Tea Time With Mom", yang menjadi bagian dari Vemale Talks yang digelar di Malang.
"Mahesa, filmmu boleh nggak kuputar di acaraku? Acara Hari Ibu-nya Vemale," kataku kepada Mahesa lewat pesan Whatsapp. "Boleh!" jawab Mahesa. "Malah seneng banget!"

Setelah izin kudapatkan, film pun dipindahtangankan kepadaku oleh Mahesa. Aku baru sempat menontonnya sekitar 3 hari sebelum acara "Quali-Tea Time With Mom" berlangsung. Sungguh, itu adalah kesalahanku, karena aku mengalami mixed feeling yang luar biasa setelah menonton Nunggu Teka (padahal mau berangkat meeting dengan klien. Duh --")

Aku bukanlah reviewer yang baik, apalagi untuk urusan mereview film. But let me try to explain what I'm feeling: pernahkah kamu merasa hatimu digali, begitu dalam sampai menembus dasarnya? Sebuah perasaan yang tak bisa dijelaskan, sampai ulu hati terasa sakit. Bahkan rasa sakitnya membuat air mata tidak mampu menetes sedikit pun?

Perasaan itu yang aku rasakan saat menonton Nunggu Teka. Satu tingkat di atas sedih, terasa mengiris. Nelangsa, mungkin kata itu yang lebih mendekati, walaupun tidak sangat pas menggambarkan yang aku rasakan. Lebih sedih daripada nelangsa.

Nunggu Teka bukanlah film dengan banyak kata-kata atau pun musik. Itulah yang membuat Nunggu Teka, bagiku, bukan film yang bisa ditonton di suasana ramai bersama-sama banyak orang atau sambil mengerjakan hal lain (kadang kita sering melakukannya 'kan?). Segala detil tentang kesederhanaan yang digambarkan Mahesa dalam film ini muaranya cuma satu: kesendirian dan nelangsa seorang Ibu. Foto keluarga, nasi kotak berkatan yang sudah basi, opor ayam, jajaran camilan, telepon dan terlebih ... ekspresi sang Ibu, semuanya dijahit menjadi satu kesatuan cerita yang benar-benar menggambarkan saat sang Ibu berharap, merindu dan menanti kedatangan sang anak di momen Idulfitri.

Mungkin itu juga yang dirasakan mereka semua yang hadir di acara Quali-Tea Time With Mom. "Aku jadi inget Ibuku, yang selalu Whatsapp, 'Nduk, kapan pulang? Mau dimasakin apa?'," kata Ivana (editor Vemale) sambil menangis. "Aku inget Ibuku, aku membayangkan itu ibuku," adalah kata-kata yang kudengar dari mereka yang menonton Nunggu Teka di acara kemarin.

Di momen kemarin, menurutku yang sangat spesial adalah saat ibu dari Mahesa juga hadir dan bercerita tentang bagaimana relasinya dengan Mahesa, anak satu-satunya. Aku melihat relasi antara ibu-putranya setara dengan ayah-putrinya. Keduanya ada benang merah tak terlihat yang begitu kuat, walau tak bermaksud mengecilkan peranan terhadap relasi yang sebaliknya (ibu-putrinya dan ayah-putranya). Itu pula yang kulihat dari Mahesa dan ibunya. Mungkin juga ikatan itu yang menginspirasi lahirnya film ini.

Ada mereka yang jauh-jauh datang dari kota lain, untuk datang ke acara ini bersama ibunya. Ada yang seharusnya masih bekerja tapi rela mengambil cuti demi ingin ber-quality time bersama Mamanya. Ada yang tak pernah punya momen mengungkapkan kasih sayang lewat kata-kata dan pelukan, baru di acara kemarin 'memberanikan diri' mencurahkannya. Semoga rangkaian acara yang hanya sebentar ini, bisa memperkuat ikatan kasih sayangmu dengan ibu.

Terimakasih, Mahesa, sudah mengizinkan kami, Vemale.com, untuk mengapresiasi film ini bersama-sama dengan para ibu dan putrinya. Seperti yang tertuang dalam caption di Instagrammu:

"Ibu...
Relasi paling unik di dunia adalah Ibu dan Anak...
Rasa sayang yang terwujud dengan berbagai macam bentuk...
Berdebat dan bertengkar adalah keseharian karena terlalu dalamnya rasa sayang diantara keduanya...
Namun, sekali lagi...
Seorang perempuan utuh ketika menjadi Ibu, karena setiap manusia lahir dari seorang Ibu

Itulah salah satu alasan kenapa kami, memproduksi film Nunggu Teka ini
Sebuah sedikit celetukan dari ribuan sajak untuk Ibu
Terima kasih @vemaledotcom yang membuka kesempatan bagi film kami untuk bertemu dengan penontonnya...
Penonton sesungguhnya...
Ibu dan Anak"




You Might Also Like

0 comments

Flickr Images