Support System

November 23, 2017


Beberapa hari yang lalu, aku melewati 2 tahun setelah kepergian Papa. Mungkin kalian yang baca tulisan di jurnal ini ada yang mikir, "Yaelah, Wind, ngapain dibahas mulu sih soal itu?" (seperti saat seseorang mengatakan, 'Yaelah udah demosi aja masih ngeluh terus' 2 tahun yang lalu :) ).

Untukku secara pribadi, aku nggak bakal bisa melupakan bagaimana hari-hari terakhir bersama Papa, saat Papa meninggal dan berbulan-bulan aku harus mengembalikan kewarasanku dengan pretend to be okay.

Salah satu yang membuatku cepat sembuh dari segala kegilaan bertubi-tubi di tahun 2015, dengan drama yang dibuat orang lain dan berdampak pada karirku sampai kehilangan Papa, adalah aku punya support system yang baik. Nggak kebayang kalau di masa itu aku nggak punya support system, mungkin selamanya aku akan tenggelam dengan pikiran-pikiran buruk yang nggak membangun.

Support systemku punya karakter masing-masing. Ada yang mau menasihati, sekedar menemani ngopi bahkan nggak segan menegur. Atau ada yang sengaja menyenangkan hatiku dengan mengajak sibuk agar nggak kembali ke perasaan-perasaan sedih itu.

Support system adalah orang-orang yang mengatakan apa yang perlu kudengar. Bukan cuma apa yang ingin kudengar. Beberapa kali aku salah memahami orang-orang yang kuanggap support systemku, dulu. Semakin dewasa akhirnya aku tahu support system, dengan berbagai caranya masing-masing, adalah orang-orang yang berhasil membuat aku mengangkat kepala dari air supaya nggak tenggelam.

Setiap hari kita ketemu masalah. Itu ujiannya dalam hidup. 'Soal'nya pun beragam. Tapi yang berbeda adalah dengan siapa kita belajar dan dengan siapa kita mendapatkan dukungan untuk memecahkan teka-tekinya. Ini seperti, "Pecahkan teka-tekimu sendiri, tapi kalau kamu lelah, sini kita ngopi dulu. Udah kubuatin kopi nih di teras depan."

Well, yah, selain sandang, pangan, papan, kebutuhan hidup manusia yang paling dasar adalah rasa didukung dan dihargai keberadaannya.

Sekarang sudah tahun 2017. Pada saat aku menulis ini, aku sudah bisa tertawa-tawa, mencari caption yang witty untuk foto-foto Instagramku, meski sesekali mikir satu-dua-tiga-sepuluh hal. Terimakasih! :)

*Image taken from pexels.com

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images