Menimbang-nimbang Naik Angkot Ataukah Transportasi Online?

September 28, 2017



Lima-sepuluh tahun yang lalu, saya cuma punya dua alternatif untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Diantar oleh ayah saya, dan naik angkot. Bahkan, sampai kuliah pun saya adalah angkoters, yang walau hanya tahu empat rute angkot saja (dari rumah-kampus-rumah dan rumah-kantor-rumah).

Angkot sudah jadi bagian dari perjalanan hidup saya, kalau boleh lebay. Saya bahkan pernah bawa gitar dan boks guitar effect ke Sawojajar, naik angkot, yang mana seketika membuat isi angkot langsung penuh karena bawaan saya. Itu duluuuu sekali, saat transportasi selain angkot pilihannya hanya taksi (dan waktu itu tarif taksi mahal banget -- sampai sekarang sih). Tanpa angkot, ya mungkin saya nggak bisa pulang-pergi kuliah.

Baca Juga: Angkot itu 2.500, Jendral!

Sekitar 2 tahun yang lalu, status saya sebagai angkoters secara resmi tergeser menjadi bikers. Setelah beberapa pertimbangan, saya memutuskan untuk menggantikan ketergantungan saya terhadap angkot dan beralih dengan naik motor sendiri. Tentunya, setelah sukses merayu alm. Papa yang selalu khawatir kalau-kalau saya jatuh dari motor lagi seperti kejadian 4 tahun lalu.

Keputusan saya naik motor yang paling dasar adalah karena mobilisasi saya semakin menggila semenjak bekerja di media. Makin gede, apalagi setelah bekerja, kebanyakan orang akan punya banyak aktivitas. Dalam sehari, saya bisa pindah tempat sampai 2-3 kali dengan rute yang dari ujung timur ke ujung barat. Naik angkot tentu bukan jawaban karena bakal merepotkan. Apalagi kalau harus pulang malam di atas jam 21.00. Sedangkan angkot-angkot di Malang hanya beroperasi sampai jam 21.00, itu pun dengan rasa was-was dari sisi keamanan.

Selain itu, kalau dihitung dari sisi ekonomi, naik angkot dibandingkan naik motor tentu lebih banyak biayanya. Kalau sehari tujuannya cuma rumah-kantor-rumah, mungkin masih terhitung murah. Sekali naik angkot di Malang saat ini tarifnya Rp. 4.000, pulang-pergi dikali 2, sedikitnya sehari mengeluarkan biaya Rp. 8.000 hanya untuk tujuan rumah-kantor-rumah. Tapi kalau seseorang tingkat aktivitasnya tinggi, bisa lebih dari Rp. 20.000 lho, belum lagi kalau harus oper karena rutenya nggak sekali jalan.

Padahal, setelah saya naik motor sendiri, isi Pertalite untuk seminggu hanya Rp. 20.000-Rp. 25.000. Sebulan paling nggak Rp. 100.000 untuk BBM dan per 3 bulan sekali servis motor Rp. 150.000. Dari sisi biaya, tentu jauh lebih ekonomis.

Banyak orang yang memang gak punya pilihan seperti saya yang kemudian akhirnya lebih suka naik motor setiap hari. Beberapa teman di kantor masih naik angkot karena alasan mereka tidak bisa mengendarai motor dan belum mampu membeli motor. Tapi orang-orang yang 'kepepet' seperti ini pun seringkali kena getah dari ketidaknyamanan dan ketidakprofesionalan angkot. Misalnya: ngetem lama sekali walau sudah berangkat sejak pagi, diturunkan semena-mena di tengah perjalanan, belum duduk nyaman sudah digas sampai teman saya waktu SMP ada yang jatuh dari angkot dan patah kaki, menyetir ugal-ugalan, nggak mau mengangkut anak sekolah karena tarif buat anak sekolah lebih murah, dan banyak lagi ... Belum lagi, kondisi armada angkutan umum yang sebagian besar gak nyaman.

Sejak ada transportasi online, seperti Gojek, Grab dan Uber, ketidakpuasan-ketidakpuasan terhadap angkutan konvensional seperti mendapat seteguk air di padang gurun. Di Malang, sudah setahun lebih transportasi online beroperasi dan banyak digunakan tentunya.

Tapi, sudah dua kali (lebih) ini supir angkot melayangkan protes karena merasa terancam dengan kehadiran transportasi berbasis aplikasi online. Yah, mungkin kalian bisa baca selengkapnya di website-website berita ya, betapa chaosnya kondisi kota karena aksi demo ini. Banyak anak-anak sekolah terlantar hingga adanya movement independent yang diinisiasi oleh @infomalang, yaitu #NebengMalang. 




Ramai-ramai soal transportasi konvensional vs transportasi online ini bikin saya gerah juga ya. Pasalnya di Malang ini nggak cuma sekali lho, udah beberapa kali. Sepanjang ingatan saya, setiap kali ada wacana transportasi baru, selalu ada pihak-pihak yang merasa dimatiin nafkahnya. Dulu bis sekolah, sekarang transportasi online. 






Kenapa harus risau? Sebetulnya semuanya juga punya pasar masing-masing dan tentunya penggunalah yang punya otoritas penuh buat menentukan. Nggak bisa ngejudge "Woh, gara-gara Gojek tuh angkot nggak laku," atau "Angkot tuh bikin susah aja!" (walau memang sebagai angkoters saya mengakui angkot lebih tidak nyaman.)

Case pertama, setiap kali saya mau bepergian ke luar kota naik kereta dari Stasiun Kota, saya pasti naik angkot jurusan MM. Kenapa? Karena angkot sekali jalan kalau dari rumah ke stasiun itu lebih murah beberapa ribu rupiah, ketimbang naik transportasi online. Lagipula, biasanya saya pergi hanya dengan 1 tas ransel dan 1 tas kecil. Jadi tidak terlalu merepotkan. Naik angkot juga sama-sama saja dengan naik transportasi online, karena turunnya pas di depan pintu stasiun. Maka, saya lebih memilih naik angkot.

Case kedua, kalau ke kantor nggak bawa motor, saya memilih naik angkot. Kenapa? Karena kalau dari rumah ke daerah Araya, naik angkot tarifnya flat cuma Rp. 4 ribu. Rumah saya di daerah Galunggung dan naik Gojek tarifnya Rp. 8 - 11 ribu. Walaupun jalannya agak jauh ke kantor, tetapi jika saya nggak terburu-buru, saya menikmati jalan kaki 2-3 km dari Taspen ke kantor di PBI.

Case ketiga, kalau saya mau ke Bandara Abd. Saleh, pastinya saya akan naik transportasi online. Kenapa? Karena nggak ada angkot yang mampu mencapai ke dalam pintu masuk Bandara. Itu baru berangkatnya, belum pulangnya yang biasanya bawa lebih banyak barang dari luar kota. Nggak ada angkot, transportasi online nggak dibolehin masuk bandara ... Ya sudah mengemis minta tolong dijemput teman. Repot? Iya. Ngerepotin? Banget.

Case keempat, beberapa kali saya diundang menyanyi dan harus bawa gitar. Gitar saya dan gigbagnya, lebih besar daripada badan saya. Kalau naik angkot, sangat tidak memungkinkan. Apalagi biasanya acara dimulai dan berakhir malam hari. Ada angkot yang mau narik jam 11 malam, seorang cewek bawa gitar dalam gigbag, sendirian? Mendingan saya menjelma jadi labu.

Saya yakin banyak orang yang juga seperti saya. Ini hanya masalah prioritas dan otoritas penggunanya. Ada hal-hal yang bisa dilakukan ojek online, ada yang bisa dilakukan angkot. Ojek online bisa diminta beli makanan dan antar barang, angkot nggak bisa. Angkot lebih unggul untuk masalah tarif flat jauh-dekat (tapi kok akhir-akhir ini banyak yang mengalami ditarik lebih dari tarif seharusnya?). Untuk mereka yang tidak mampu mengoperasikan teknologi smartphone misalnya, tentulah angkot lebih unggul dan saya sangat yakin jumlahnya masih banyak. Coba lihat tiap pagi di pasar-pasar seperti Gadang dan Mergan. Angkot masih berjubel dipenuhi orang-orang yang membawa dagangan mereka.

Dengan kapasitas saya, saya tidak begitu memahami bagaimana seharusnya sistem suatu kota dijalankan. Jika transportasi online dianggap melanggar hukum, saya sangat setuju untuk ditindak dan diluruskan. Begitu pula jika transportasi konvensional melanggar hukum dan tidak nyaman, saya sangat mendukung untuk ditindak dan diarahkan. Tetapi, bukan berarti mematikan satu sama lain.

"Ngomong melulu, kamu punya solusi nggak?"

Sejauh ini saya nggak punya solusi, apalagi power untuk mengubah kota ini. Tapi setidaknya saya mencari solusi untuk diri saya sendiri dengan mensimplifikasikannya yaitu menggunakan motor atau berjalan kaki ke tempat-tempat yang masih reasonable untuk dijangkau.

---
Beberapa minggu yang lalu saat saya mau berangkat ke Bali dengan tas lumayan penuh, saya naik angkot. Sopir angkot, entah mungkin dia melihat penampilan saya atau sekedar memancing, bertanya, "Kok nggak naik Gojek, Mbak?" Khawatir salah menjawab ujungnya jadi gak enak, saya berkata, "Soalnya nggak pengen, Pak."

Ehehehe ... 

You Might Also Like

2 comments

  1. Kl sy lebih memilih transportasi online mba, lebih murce. sayangnya di kota saya gak ada

    ReplyDelete
  2. Aku pribadi honestly lebih suka naik transportasi online kalau emmang lagi terburu - buru.
    Tapi kalau seandainya lagi nggak buru - buru banget, masih bisa berkompromilah dengan menggunakan transportasi umum.

    Salam kenal yah winda :)

    ReplyDelete

Flickr Images