Mengenang Semua Yang Indah Tentang Papa

September 18, 2017



Tahun ini, bulan November nanti, dua tahun kepergian Papa. Sejak tanggal 17 November 2015 itu, hidupku benar-benar berubah. Memang benar kok, kepergian orang tua itu jadi titik balik luar biasa yang seharusnya menyadarkan titik-titik saraf seseorang tentang kehidupannya. Terlebih buat yang ditinggal saat belum 'mentas' sepertiku.

Bayangan saat jalan di altar di hari pernikahanku, didampingi Papa, sudah pasti nggak bisa terlaksana deh

Ketika Papa pergi, otomatis aku jadi tulang punggung keluarga dan tongkat yang dipaksa kuat untuk bersandarnya Mama. Jikalau kalian belum tahu, Mamaku stroke sudah hampir 20 tahun. Dan ketika ditinggal Papa, sungguh bukan cuma Mama yang sebenarnya kehilangan separuh kakinya, tapi aku juga.

Sering aku merasa kayak menyesal. "Coba kalau Papa masih hidup, gini ini bisa kuajak makan anu-itu sore-sore," atau "Coba kalau Papa masih ada, ini baju bagus buat Papa (yaeyaaa gak punya pacar baju laki-laki buat siapa coba kalau bukan buat Papa)," atau "Hmm, enak ya makan rawon gini kalau sama Papa (biasanya suka diajak ngerawon sama Papa)," dan terlebih saat aku senang tapi Papa nggak bisa melihat atau sedikitnya mendengar ceritaku (biasanya kalau di luar kota atau lagi selebrasi apa gitu, orang pertama yang kutelfon ya Papa).

Satu-dua sampai enam bulan setelah Papa pergi rasanya memang aneh. Setiap pulang ke rumah, cuma ketemu Mama. Gak ada yang bukain pagar atau nunggu di kursi merah di ruang tamu. Nunggu anaknya yang bungsu ini pulang larut malam. Walau dibuat seperti apapun, suasana rumah tetap terasa hampa. Tapi aku dan Mama sering mengobrol soal Papa. Kami berdua sering 'berkhayal' tentang "Eh, paling gini Papa wis enak ya di surga. Gak ada yang marahin kalo makan manis-manis. Hahaha ..".

Ketika Natal tiba, memang kerasa sedih sih, karena biasanya aku ke gereja bersama Papa. Dekat dengan hari Natal adalah anniversarry grup PA-nya Papa. Biasanya Papa sudah sibuk ke sana ke mari, jemput-jemputin teman-temannya yang datang dari luar kota. Tapi di tahun 2015 itu, dua sahabatnya 'berpulang' duluan. Mama bilang, "Wah ya ini paling Papamu di atas sana Natalan, terus kemping sama Om Didik & Om Iwan." Terus kami ketawa bareng-bareng.

Selama 2 tahun sepeninggal Papa, aku belajar mengikhlaskan dan menyadari kalau pun Papa masih hidup, tentu kondisinya nggak bakal sembuh 100 persen. Beliau nggak bakal tahan sakit, nggak bakal bisa hanya disuruh tiduran di kamar. Sekarang Papa sudah total sembuh, diangkat sakitnya..

Sejalan setahun setelahnya, kami yang masih hidup ini juga belajar untuk menata hidup kami. Bahwa hidup terus harus berjalan. Mama harus happy terus supaya nggak jatuh sakit lagi. Winda harus kerja, harus sibuk, harus masak, harus tetap punya kehidupannya sendiri, harus tetap melanjutkan hidup dan impiannya.

Setahun lebih, aku dan Mama seperti punya 'kesepakatan' bahwa kami sudah ikhlas dan akan mengenang yang indah-indah tentang Papa. Tentang makanan favoritnya, tentang kaset-kaset Shirley Bassey peninggalannya, tentang baju-baju favoritnya, tentang kebiasaannya, tentang apa yang membuatnya tertawa semasa hidup. Saat-saat Papa sakit, tentu nggak bisa terlupa begitu saja. Tapi kami yakin Papa nggak mau dikenang di saat-saat yang buruk. Beliau di sana lho memperhatikan kami. Tentu saja beliau ingin didoakan yang baik dan pasti ingin melihat kami semua yang masih hidup di sini, bahagia, mandiri dan strong .. dan doyan makan, dan tetep suka masak, dan tetap suka nyanyi-nyanyi.

Karena kami sangat mencintai Papa, maka kami ingin mengenang yang indah tentangnya. 

Thankyou for being the best dad in the world, Pa! Kiss from us :*

You Might Also Like

2 comments

  1. Duh jadi inget sama papa juga, Agustus kemarin 1 th meninggalnya papa.
    Papa2 kita pasti sudah bahagia di surga. Semangat!

    ReplyDelete
  2. Ga krasa ternyata air mataku berlinang saat baca tulisan ini, jadi inget papaku juga yg udah berpulang ke rumah Bapa 4 thn yg lalu, aku juga jd tulang punggung setelah papaku pergi, life gets harder since he has gone, but life goes on. Papa kita udah bahagia di surga, tugas kita adalah membahagiakan mama.

    http://ursulametarosarini.blogspot.co.id/

    ReplyDelete

Flickr Images