Seumpama Kota Mati Senyap Tak Bernyawa, Seperti Itulah Rasanya Ditinggalkan

August 10, 2017


Setiap orang akan dihadapkan dengan suatu kondisi ditinggalkan. Oleh siapapun. Pepatah yang sungguh klasik memang sudah mewanti-wanti kita, "Setiap pertemuan akan berujung dengan perpisahan."

Tapi, caranya tentu berbeda-beda. Lewat kematian, lewat konflik, lewat perceraian, lewat jarak. 

Kematian, adalah cara ditinggalkan dan meninggalkan paling perih tapi paling manusiawi selama manusia terikat dengan yang namanya kehidupan. Aku belajar banyak soal ini. Aku kira awalnya dengan kematian, aku akan disambut dengan pintu tertutup yang di baliknya ada Papa yang berbeda dunia denganku sekarang. Ternyata, tidak seperti itu. Aku masih merasa Papa ada di sini. Fisiknya sudah meninggalkan aku, tapi jiwanya tidak. Aku memang ditinggalkan, tapi tidak sepenuhnya.

Ditinggalkan cara kedua yang juga perih adalah ditinggalkan begitu saja, tanpa pamitan dan penjelasan. Orang-orang yang pernah begitu berarti, kemudian seolah lupa diri. Cara ditinggalkan yang berikut ini seringkali tanpa ada air mata yang jatuh, tapi sebetulnya kita menangis dalam hati. Rasanya susah diungkapkan, merasa diri ini seperti sampah. Kalau sudah tidak dibutuhkan, dibuang begitu saja dengan cara tak layak. Saat seperti inilah, aku percaya bahwa sebagian besar relationship antar manusia itu semu.

Ditinggalkan cara ketiga yang tak kalah menyakitkan adalah ... ditinggalkan oleh orang yang setiap hari masih ada di sekitar kita. Mengetahui bahwa kita tidak lagi jadi bagian dari kehidupannya sehari-hari, namun pada kenyataannya dia masih kita lihat setiap hari. Baik dia ataupun kita, sama-sama tidak saling melibatkan lagi pada pembicaraan, baik yang penting maupun tidak penting. Dan yang paling terasa adalah ketika seseorang memutuskan untuk mengubah hidupnya, dan kita tidak tahu rencananya itu ... ternyata kitalah bagian dari hal yang ingin diubah dalam hidupnya.

Itulah perasaan ternelangsa paling tak berdaya.

Seumpama kota mati yang senyap tak bernyawa, begitulah kamu meninggalkan saya seperti satu-satunya manusia yang tersisa di muka bumi waktu itu. Seumpama daun-daun berguguran, seperti itulah kamu merontokkan perasaan saya. Seumpama hiposentrum dan episentrum, sejauh itulah jarak yang kamu bentangkan pada saya untuk tahu batas dan tahu diri. Seumpama gelombang, kita sekarang tak lagi berada pada frekuensi yang sama. 

Ya sudahlah, semua semua orang bahagia dengan caranya masing-masing meski tidak pernah lagi bertegur sapa.

* Image taken from pexels.com

You Might Also Like

2 comments

  1. Mbaaak Wiiiin, tulisan ini mengingatkanku peristiwa kmrn. Egoiskah diriku ketika memanjatkan doa agar aku masih dipertemukan kembali dgn buah hati dan suamiku. Pdhl yg namanya kematian mungkin sedang menantiku saat itu di sana, mungkin.

    Tuhan benar2 baiiiik, teramat baik untuk umatNya.
    Speechless aku, tfs yaaa...peluuuuk mbak Win xoxo

    ReplyDelete
  2. ditinggalkan seseorang yang selalu bersama kita itu memang sangat menyakitkan mbak, benar-benar tiap hari hati akan basah karena menangis dan sedih, aku pernah begini saat ibu meninggal, rasanya kosong malas ngapa-ngapain

    ReplyDelete

Flickr Images