Sawang-sinawang

August 31, 2017



Sebenarnya aku ragu-ragu menulis tentang ini, di journal ini. Karena walaupun yang baca journal ini cuma puluhan, ya tetap ada yang baca dan aku juga nggak tau siapa saja yang baca. Bisa jadi temanku, bisa jadi musuhku dan orang-orang yang gak kukenal yang kebetulan nyasar mungkin gara-gara keyword nyantol di search engine Google. Tapi yowislah ... nggak apa-apa. 

Selama beberapa bulan ke belakang ini, aku sedang merasa tidak puas sama diriku sendiri. Ya kalau aku ngomong seperti ini, pasti beberapa orang bilang, "Yo gak sepisan iki tok koyok e .." Tapi memang keadaannya seperti itu. Sepanjang 26 tahun hidup ini, aku berusaha memaklumi dan menerima ke-tidak mampuan-ku untuk menggapai mimpi-mimpiku yang sebetulnya faktor utamanya justru bukan dari dalam diriku.

Aku masih ingat waktu ngobrol sama Rendy di rooftop kantor C sore-sore tahun 2015 dan Rendy bilang dengan lugas, "Kon ojok kalah dan ngalah terus." Tapi lha kenyataannya mengalah itu cuma opsi yang bisa aku lakukan demi menjaga stabilitas kehidupan. Ya siapa yang tahu kalau setelah aku mendapat tawaran ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ123456789 itu, kemudian tanpa perlu minta pertimbangan siapapun aku pasti sudah tahu HARUS menjawab apa, aku cuma bisa merasakan efek mencelos di hati yang gak bisa dituangkan dalam kata-kata apapun. Bahkan ketika aku curhat dengan orang-orang yang kupercaya, aku cuma bercerita terus tertawa-tawa tapi nggak ada yang pernah tahu pulangnya aku nyetir motor sambil menangis? Ya memang gak perlu tahu .. (tapi akhirnya ada yang tahu, ya kamu yang baca blogpost ini).

Sampai pada akhirnya, 1-2 bulan ini, dorongan itu begitu kuat. Mungkin aku lelah. My mind were fucked up. Sore itu aku ketemu Kak Swedho. Sudah lama aku pengen ngobrol banyak dengan Kak Swedho tapi kami sama-sama banyak aktivitas. Dan hari itu kami akhirnya punya kesempatan ketemu bareng ngobrolin project, dilanjutkan dengan ngobrol berdua saja.

Dari situ, aku menceritakan hal-hal yang sebelumnya nggak bisa kutemukan jawabannya. Atau setidaknya nggak bisa dengan baik kuterima dari pendapat orang lain. Kak Swedho bilang,
Kalau saat ini kamu sedang nggak puas dengan apa yang kamu dapat, kamu musti ingat bahwa kepuasanmu bisa jadi digantikan dengan hal lain. Ada orang yang puas secara materi, tapi secara batin nggak tenang. Sebaliknya, secara materi mungkin "segitu-gitu" saja, tapi punya support system yang baik. Ada yang kebahagiaannya secara materi terbatas, tapi punya waktu berkualitas yang lebih banyak. Kurang lebih seperti itu cara Tuhan menukar nilai kebahagiaan.
Mungkin hari ini aku memang belum sepenuhnya ikhlas. Tapi aku pasti bisa ikhlas ... dan suatu hari bisa puas dengan diriku sendiri :'(

You Might Also Like

1 comments

  1. menjelang kepala 3 itu rasanya....
    ikhlas ikhlas....
    suwun mbak sharingnya

    ReplyDelete

Flickr Images