(Katanya Generasiku) Generasi Strawberry

August 03, 2017



Beberapa hari yang lalu aku baca soal “Forbes 30 under 30″. Jadi setiap tahunnya Forbes merilis nama-nama anak muda usia under 30 yang sukses di berbagai dunia bisnis. Meski nggak baca semua profilnya, tapi memang yang termasuk dalam list-listnya adalah anak-anak muda yang keren. Pol.
Rata-rata mereka, iyaps, generasi milenial. Generasi yang sering dibilang etos kerjanya nggak bagus, manja. Pokoknya nggak ada baik-baiknya deh di mata dunia per-human resource-an. 
Aku jadi ingat beberapa tahun silam, ada seseorang yang mengatakan, generasiku ini adalah “generasi strawberry”. Jadi, generasi strawberry ini merujuk pada karakter anak muda kelahiran 1981-1991 di Taiwan yang nggak mau kerja keras, egois, lamban, manja dan nggak menurut sama nasihat orang tua. 
Penasaran juga sih, kenapa kok dibilang sebagai generasi strawberry. Ternyata merujuk pada karakter buah strawberry yang lunak, gampang hancur. Gak bisa dikerasin walaupun dikit. Dimiripin sama karakter kita-kita ini lah.
Kesannya generasiku ini gak ada bagus-bagusnya yah :”)) Sedih Buuu.. Masak iya sih generasiku diciptakan ampas doang, sari-sarinya udah diambil semua sama generasi sebelumnya? Macam semakin ke sini, generasinya makin gak fungsi. Yaelah, kasian juga emak-bapak kita yang melahirkan generasi ampas dong? :((
Lemme explain to you what I think abt this. Ironisnya, seseorang yang mengatakan hal di atas, adalah orang yang sampai hari ini bekerja dengan para "strawberry" ini. And also, yang jadi konsumennya adalah “generasi strawberry”. Menyedihkan mengetahui bagaimana dia menilai generasi yang menggerakkan roda perusahaannya sedangkal itu.
Menurutku, bukan dari segi generasinya, kalau memang ada hal-hal yang tidak beres, semata dari oknumnya. Nggak semestinya menggeneralisasi dan pointing his finger, “Nohhh, dasar generasi nggak ulet!” Secara nggak langsung, punya mindset seperti ini bakal terlihat dari bagaimana akhirnya generasi atasku menilai generasiku berinteraksi, memposisikan diri dan tanpa mereka sadari, mereka sendirilah yang bikin gap itu. 
Orang-orang yang selalu menganggap generasi milenial atau generasi strawberry atau apalah-namanya-kami-generasi-ampas-ini sebagai generasi yang nggak bisa diajak bekerja, selalu mengagungkan “usia” dan “lamanya bekerja” sebagai patokan “kita-lebih-pintar-dari-kamu-udah-deh-gak-usah-denial-dan-gak-usah-sok-sharing-soal-pengalaman-kamu.” Sad :(( Padahal sepengalamanku, tiap-tiap generasi ya punya caranya sendiri buat bekerja. Yang kutahu di sekitarku, teman-temanku bekerja remote dari mana saja, punya project dengan orang-orang luar kota bahkan luar negeri dan rata-rata juga pekerjaannya beres. Sepanjang kami diberi kebebasan untuk bekerja dengan cara kami dan kepercayaan, tentunya, ya semuanya bisa berjalan dengan baik. Toh, masih banyak orang-orang ‘tua’ yang tetap dipelihara walau nggak lagi bisa mengikuti perkembangan dunia dan cara kerja masa kini, dan akhirnya keteteran dan bikin yang lain gak bisa berlari. 
Umurku sekarang 26 tahun, masih generasi milenial. Tapi ngeliat mereka yang beda umurnya 3-9 tahun di bawahku, cara kerjanya sudah beda. Mereka bisa banget edit vlog sampai 2-3 video per minggu, bikin suatu konsep packaging brand segitu inovatifnya, aku ya ngowoh dan salut. Padahal kami ada dalam rentangan generasi yang sama lho :”D Kenapa akunya seperti udah gak punya daya bahkan untuk ngedit 1 video aja gak kelar-kelar? Hahahaha
Pemikiran-pemikiran yang menyudutkan generasi muda ini yang sebetulnya bikin roda dunia kerja atau dunia kreatif atau dunia apa aja, jadi susah berjalan mulus. 
Ya cobalah duduk bareng sambil ngopi-ngopi, ceritain soal bagaimana cara Anda dulu bekerja dan mana poin yang relateable diaplikasikan di masa kini, mana yang bisa di-tweak dengan cara kami yang sekarang ini ‘menguasai’ dunia kerja. Sama-sama tukar pikiran dan cari jalan yang solutif untuk menyelesaikan masalah. Berikan pemahaman.
Karena nanti pada saatnya generasiku juga akan punya “anak-anak” yang musti dibimbing, mereka juga punya caranya sendiri dan jangan sampai nanti generasi adik-adik dan anak-anakku “kepaten obor” karena takut berbagi keluh-kesah dan kesulitan-kesulitan dengan ‘seniornya’. Padahal seniornya punya pengalaman memecahkan masalah tersebut.
Herannya ya, Mamaku, yang usianya beda 40 tahunan dengan the-oh-so-called-generasi-strawberry ini pernah bilang, “Yo lek wis tuwek, gak produktif, gak iso ngikuti dunia zaman sekarang, yo leren ae. Mosok mandeg-i perubahan zaman. Arek2 sekarang luwih pinter, malah luwih gede semangat kerjane soale opo-opo larang dan angel.”
Oh yes, sip, Ma! 
*Tulisan ini just my two cents yah ;) Sengaja ditulis dulu di sini ndak di lapak sebelah karena tulisannya masih berantakan dan so impulsive.

*Image taken from pexels.com

You Might Also Like

2 comments

  1. Hai, mbak! Makin ke sini, saya semakin respect sama anak-anak muda yang usianya di bawah saya yang berhasil merintis bisnisnya sendiri, kreatif, dan makin out of the box.

    ReplyDelete
  2. Anak muda sekarang makin keren, kreatif dan bikin ternganga liatnyaa.

    ReplyDelete

Flickr Images