Tidak Benar-Benar Jatuh Cinta, Tidak Benar-Benar Patah Hati

June 07, 2017

Image taken from pexels.com

Beberapa tahun belakangan ini, aku merasa tidak benar-benar jatuh cinta. Jadinya, aku tidak benar-benar patah hati. Sampai hari ini, mungkin aku baru satu kali benar-benar jatuh cinta dan merasa diistimewakan, sekaligus benar-benar patah hati sewaktu dia pergi dengan orang lain dan membangun kisah hidupnya sendiri. Ya sudahlah, hehehe ... Diikhlaskan saja.

Sisanya, mungkin sekedar ketemu, kemudian pergi begitu saja. Dan aku nggak begitu ambil pusing. Aku kadang merasa bebal, terlalu bebal. Waktu dekat dengan seseorang dan kemudian aku tahu ekspektasiku ketinggian sementara dia tidak memberikan tanda-tanda respon seperti yang kuharapkan, ya sudah aku akan berlalu begitu saja. Menyibukkan diri dengan duniaku, kayak nggak ada apa-apa. Lha ya memang gak ada apa-apa kok ... Rasanya seperti tamu yang mampir. Namanya tamu 'kan, cuma sebentar pasti dia akan pergi.

Cuma dengan 1-2 orang saja aku menceritakan bagaimana perasaan-perasaanku. Aku lebih suka berbagi soal pandanganku ke depan tentang pekerjaan dan gambaran besar soal bagaimana aku menjalani hidup beserta pandangan-pandangannya, ketimbang bercerita soal romansa.

Itulah mungkin kenapa orang terdekatku dulu bilang kalau aku 'angkuh' dan 'senseless' (dan determinasi tinggi) hahahaha 

Soal patah hati, sekedar ditinggalkan seseorang yang pernah diam-diam aku kagumi, sebetulnya nggak ada seper-ujung kuku-nya ketika aku merasa sungguh hancur saat; Pertama: seseorang pergi begitu saja, kembali dengan kabar (akan) menikah (saat itu); Kedua: Melihat dengan mataku sendiri pagi itu Papa kesulitan bernafas dan aku sudah tahu waktunya sudah dekat dengan 'kepergian'. Sementara aku 'diutus' untuk menyampaikan kabar kepergian Papa kepada Mama di rumah, dengan setenang-tenangnya. Padahal aku benar-benar membohongi perasaanku yang hancur, terhancur dari segalanya.

Patah hatiku yang benar-benar terdalam, yang pernah aku rasakan sampai 26 tahun ini. Sejak kedua kejadian itu, soal ditinggal-meninggalkan, apalagi untuk urusan perasaan romansa dan pertemanan yang sekedar di permukaan, nggak lagi begitu penting buatku. Ditinggalkan dan dibuang oleh teman-teman atau seseorang, ya itu artinya aku diminta untuk mengalokasikan waktu serta pikiranku untuk memikirkan hal lain yang lebih penting (pekerjaan, ide-ide campaign, misalnya) atau disuruh untuk menemui teman-teman yang jarang kutemui. Atau mungkin pertanda harus lebih banyak menghabiskan waktu di rumah?

Mungkin bisa jadi benar ya, karena aku tidak benar-benar jatuh cinta, pada akhirnya aku merasa tidak benar-benar patah hati.

Tapi aku berharap, semoga suatu hari nanti aku benar-benar tahu rasanya bahagia.

Sekian dan postingan menggerus ini dipersembahkan oleh album-album Goo Goo Dolls.

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images