Menyayangi Dengan Cara Berbeda

June 18, 2017



Ketika postingan ini ditulis, seharusnya aku mengerjakan deadline pekerjaan yang lain. Tapi kadang otakku nggak sabar untuk dituangkan dalam tulisan. Memang punya jiwa impulsif itu repot kok.

Sore tadi aku ketemu dengan Amal. Seperti biasa, 4 jam hanya terasa 4 menit kalau mengobrol dengan ibu character reader sejagad ini. Ngobrol dari satu pembahasan ke pembahasan yang lain, akhirnya kami kembali lagi ke satu bahasan yang sama: ada orang-orang yang kami sayang, mereka tahu kami sayang dengannya tapi mereka sendiri nggak ada usaha.

Aku dan Amal punya karakter yang sama, suka encourage orang untuk take action. Misalnya ada yang punya karya bagus, tapi malu menunjukkan ke orang lain. Padahal ya karya mereka itu memang bagus bahkan pakai banget. Aku dan Amal pasti akan encourage untuk, "Yuk lah, dijadikan, dibranding, dijual. Butuh temen buat nganu? Eh aku punya lho temen yang bisa bantu kamu ..." dan bla-bla-bla.

Di caseku, ada beberapa orang terdekatku yang punya harapan (dan kebutuhan hidup) cukup tinggi. Sudah berbagai cara aku coba lakukan untuk mendorong mereka, ngasih advice, dan sebagainya. Tapi balik lagi, mereka demotivasi sendiri. Akhirnya kami-kami ini lelah juga ya Cyin, mau dorong terus itu truk gandeng mogok :"( Sampai akhirnya mikir, "Yo lapo aku repot-repot wong yang disupport aja nggak mau usaha kok."

Yah, mungkin aku juga masih punya sifat seperti itu. Apalagi kalau ingat soal keinginan hijrah ke karir yang lebih baik, di luar kota, yang kutolak-tolak itu. Mungkin ketika aku cerita ke seseorang tentang keinginanku buat bertumbuh lebih daripada sekarang ini, tapi aku nggak berani (dan pada akhirnya, alasan terkuat adalah: nggak mungkin bisa meninggalkan 'rumah'), mereka juga ngerasa kesal ya sama aku. Ini nih kayaknya si Rendy yang suka kesel sama aku kalau aku curhat tentang ini. Sorry yo Cus :))

Aku merasa gemas sendiri. Kasarnya, butuh uang? Ya ayo kerja yang niat, ayo sini kamu bisanya apa. Jangan kemudian pekerjaannya sudah ada, tapi ngasal, tapi nggak niat. Butuh networking? Ayo, jangan cuma bobo-bobo di rumah gak guna. Investasi waktu luangmu buat ngumpul sama komunitas. 'Kan gitu caranya. Effortmu pasti ada lah hasilnya.

Aku itu sudah berulangkali, nggak terhitung, dibantu oleh orang lain. Bahkan orang nggak kenal pun seringkali menolongku, melalui cara-cara ajaib mereka bisa menemukan aku, kesulitan-kesulitan dan keresahanku. Karena kadang kata "terimakasih" tidak cukup, dan tentunya aku belum bisa membalas kebaikan mereka, jadi aku coba buat 'membalas' kebaikan orang lain kepada orang lain yang membutuhkan. Paling nggak, membutuhkan support lah. Aku pernah tahu rasanya nggak punya support system yang baik di dalam tim. Beneran rasanya berat sekali 'jalan' sendirian dan kehadiran support system yang baik itu sangat membantuku untuk tetap waras.

Ada orang-orang yang cerewet, ceriwis, galak, tapi semuanya demi kebaikan kita sendiri. Kalau seseorang nggak sayang, mereka nggak akan peduli sama sekali, mau kita jatuh, tengkurep, njujruk ya wis nggak peduli lah. Aku kalau sudah kesal sampai ubun-ubun, udah kamu mau jatuh di depanku ya kuanggap yang jatuh itu cuma sehelai daun. Babahno! Kalau aku masih bisa marah atau ngomel, berarti marahnya nggak 100 persen hehehe ... Masih 'sayang' walaupun dikit.

Karena setiap orang punya caranya sendiri untuk peduli. Menyayangi dengan cara berbeda.

Image taken from pexels.com

You Might Also Like

2 comments

  1. Bener mba.. Aku kalo masih bs ngomel berarti marahnya belom seberapa.. Kalo dah diem marah banget tu

    ReplyDelete
  2. Betul win, aku juga gt,kl sudah sampe ubun-ubun biasanya malah tak anggep ga ada. Kl masih ngomel berarti masih peduli, kau oun punyamimpi, dna mimpi itu yang bikin aku kerja 2x lipat lebih keras dr org lain, dan saat aku memiliki yg lebih, mereka berkata yg tidak2, rasanya pengen tak cekek.

    ReplyDelete

Flickr Images