Membebaskan Pikiran (Walau Sejenak)

June 03, 2017

Semenjak Papa meninggal, mobil kesayangan, si Katy, otomatis jadi nganggur. Dia cuma dipanasin, tapi diam di tempat. Ya maklum, aku nggak bisa-bisa nyetir karena kurang latihan. Lagipula, posisi garasi rumah juga kurang menguntungkan sih, susah sekali mau mengeluar-masuk-kan si Katy kecuali yang sudah biasa nyetir mobil kelas pro.
Karena kurang gerak itu, Katy layaknya benda yang mati segan hidup tak mau. Nggak terhitung berapa kali dia mogok di saat-saat nggak tepat. Karena kurang maintenance, nggak heran lah kalau bannya gembos lah, mesinnya nganu, nginu. Belum lagi bayar pajak tahunannya yang mihil. Padahal dia juga udah kubalik nama jadi namaku dan biayanya gede. Ngok!
Maka dengan berat hati, aku dan Mama memutuskan melepas Katy, bulan lalu. Walau Katy adalah mobil peninggalan, dan pastinya sangat sentimentil melepaskan dia :’( Tapi ya gimana lagi, meskipun kayaknya ‘remeh’, perkara Katy ini juga cukup membebaniku (dan Mama) terutama dari sisi pembiayaan. Uang pembiayaannya nggak sedikit, tapi mobilnya juga nganggur. Lama-lama rusak pula, sementara untuk belajar nyetir lagi aku masih belum bisa mengatur waktu.
Singkat cerita, Katy akhirnya laku, jatuh di tangan orang lain. Semoga bisa dirawat dengan baik. Pasti kalau ketemu Katy di jalan (semoga belum berubah wujud ya!), aku bakal sangat emosional. Ya inget Papa, ya inget pakai mobil itu belajar nyetir sama Rendy, dimarahin, nabrak pot bunga, belajar ganti bannya sama Nuga, dsb dll …
Tapi aku jadi inget satu hal penting bahwasanya walau emosional dan berat, terkadang kita memang harus bisa melepas sedikit demi sedikit beban pikiran, dengan keikhlasan. Belajar melepaskan beban pikiran.

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images