Bertemu Lagi Dengan Selamat Tinggal

June 14, 2017



Kemarin, setelah dua tahun lebih aku tidak merapat ke RS Panti Nirmala lagi. Melihat rumah sakit itu, aku rasanya masih sedih. Masih terputar jelas kenangan 2 tahun lalu, saat hampir setiap saat mengantarkan Papa berobat ke sana. Di lantai dua, Dokter Nursamsu. Berbulan-bulan, seperti itu. Dari Papa masih bisa menyetir sendiri, kami heboh sendiri karena karcis parkir yang hilang ... sampai akhirnya lemas dan harus diantar naik kursi roda.

Kemarin, aku datang ke sana lagi. Setelah bukber bareng teman-teman kantor, aku dan Banana meluncur ke RS Panti Nirmala. Setelah diwarnai dengan molor-molornya, aku sejujurnya sudah sangat gelisah. Apalagi siangnya Melati cerita, "Detak jantung Bapak sempat berhenti." Sehari sebelumnya, Melati memang sudah berkontak-kontak denganku karena ingin membawa Bapaknya ke RS dengan fasilitas BPJS. "Bapak nggak bisa makan, Mbak, muntah terus." Itu awalnya.

Dengan apa yang pernah kualami dulu, sebetulnya firasatku sudah berlari duluan. Tapi aku dan Banana tetap meyakinkan Melati bahwa Bapak pasti akan pulih dan lewat dari masa kritisnya.

Aku dan Banana sampai di ICU RS Panti Nirmala, tepat ketika Melati dan Ibunya dipanggil masuk ke dalam ICU. Aku cuma bisa mematung dan melihat pintu ICU. Rasanya memang nggak mudah mengungkapkan perasaan malam kemarin. Beberapa saat aku dan Banana, dan juga Rema, berdiri di dekat pintu itu ... Baru aku beranjak ke kursi penunggu. Di depanku, seorang laki-laki yang lebih muda dariku, sibuk menelepon dengan wajah kuyu. "Bapakku kritis nemen ..." (Akhir-akhirnya aku tahu, itu adik laki-lakinya Melati.)

Jarak dari deretan kursi penunggu ke ICU memang nggak jauh. Isak tangis tiba-tiba terdengar dan kami langsung berdiri. Kami sudah tahu apa yang terjadi. Banana menangis, sementara aku .. mataku panas tapi nggak ada air mata yang keluar. Ngilu. Setiap orang yang pernah mengalami keadaan seperti itu, pasti tahu rasanya.

Terkejut, campur aduk rasanya. Benar yang dituliskan oleh Banana di sini.

"Aku bingung mau ngapain, aku ketenggengen ... " kataku kepada Lintang yang sama-sama menanti di ruang tunggu. Sejujurnya, aku nggak bisa melihat Melati dan ibunya, dan adik-adiknya yang begitu terpukul. Nggak ada satu kata pun yang bisa kuucapkan, even itu mendekat ke Melati. Melati terus menangis. Kata Banana, dia minta untuk diperbolehkan menangis ... supaya lega.

Melati dan keluarganya, kemarin, hari ini hingga entah berapa lama, mungkin masih merasa terpukul karena kepergian Bapaknya. Tapi, sama seperti yang dikatakan Banana, Melati pasti akan lebih kokoh. Kepergian itu awal dari kedatangan hidup yang baru, baik untuk almarhum maupun yang ditinggalkan.

Semuanya sudah digariskan. Mereka sudah disembuhkan dan aku yakin, Bapak dan Papaku pun ingin keluarga yang ditinggalkan jadi lebih kuat dan terus melanjutkan hidup.

Mimpi buruk itu hadir sesaat, karena sesungguhnya melihat orang yang paling kita sayangi diangkat dari sakitnya adalah setulus-tulusnya rasa sayang


* * *
Pulang dari Panti Nirmala, aku menyetir motorku seperti auto-pilot. Rute yang biasanya kulewati saat mengantar Papa ke dokter. Aku merasa campur aduk. Selama di sana nggak ada air mata, tapi begitu pulang dari Panti Nirmala, di jalan aku merasa seperti flash back. 

Oh how I miss you, Pa!

"Kamu dulu kayak gini juga ya, Wind?" Mas Tooliq nanya.
"Aku nggak tahu, Mas, waktu itu aku langsung pulang ke rumah nyampekan kabar ke Mama ... Jangan ditanya, campur aduknya ... Semua anak perempuan pasti merasa seperti itu kalau ditinggal ayahnya ... "

Rasanya seperti patah hati berkali-kali dalam suatu waktu ...

Image taken from pexels.com

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images