“Kamu Kurang Piknik” vs “Kamu Banyak Piknik Kenapa Masih Rese”

April 26, 2017


Sepertinya sejak 5 tahun belakangan ini, saran yang paling banyak didengar untuk membalas para “haters” (katanya) adalah dengan “Kurang piknik lo!”, “Piknik lo kurang jauh!”, “Makanya piknik biar nggak rese.”
Saran yang menurutku menyebalkan karena mau piknik itu buatku justru merepotkan. Satu, ngatur cutinya. Dua, kalau mau pelesir baisanya aku malah harus kerja dua kali lipat lebih berat dari biasanya untuk menabung pekerjaan saat aku nggak bisa pegang laptop sama sekali selama beberapa hari. Ya, intinya sama saja sih :))
Aku mungkin termasuk golongan orang yang gak setuju dengan keagungan ode-ode yang didengungkan kaum-kaum “my-trip-my-adventure”. Ode-ode itu antara lain:
1. Leave your job and travel more
Unless your job are travel agent, steward/ess, pilot or travel ambassador, kamu ngayal kalau meninggalkan pekerjaan demi memuaskan hasratmu traveling. Soalnya, sampai hari ini belum ada tiket bepergian yang bisa dibeli hanya dengan mengedipkan mata kaya Jinny oh Jinny. Wis ta lah ngono kuwi iso-isone artis Tumblr ae kok .. 
2. Kalau ada orang rese, artinya dia butuh piknik
Rese ya rese aja, mungkin karena seseorang tidak cocok secara ideologi maupun cara hidup dengan kita, mungkin karena ada sesuatu di hatinya yang nggak ‘nyampai’ terhadap orang lain. Yang harusnya dibetulkan bukan dengan piknik, tapi dengan introspeksi. Pulang piknik, apakah dia berkurang resenya. Aku rasa cerita begini jarang terjadi.
Ada orang-orang yang banyak piknik, tapi masih rese. Terus kalau kaya gitu … *ngilang* 
Beberapa orang ribet mulu traveling only to impress their society and his/her circle. Biar dikata anak gaul, backpacker/traveler ‘kan salah satu sematan status instantly menaikkan level kekerenanmu di mata Instagramers sampai 30 persen. Tapi, yah, habis traveling kalau masih rese atau justru menimbun hutang di mana-mana, lalu buat apa piknik?
Gak semua orang bisa dengan mudah serta-merta piknik, kalau yang dimaksud adalah piknik jalan-jalan keluar kota, ke gunung ke nganu ke nginu. Karena tiap orang punya prioritasnya masing-masing. Membawa tubuh keluar dari rumah saja, bagi sebagian orang adalah hal yang tak mudah. 
Kata temanku yang pernah ‘piknik’ dengan bersepeda dari Malang - Gunung Rinjani seorang dini, ‘piknik’nya membawa kepada pengalaman spiritual mengenali dirinya sendiri. Sepulang liburan, dia banyak dapat bahan perenungan diri dari perjalanan gila seorang dirinya itu.
Memang balik lagi personal sih, aku nggak pengen berdebat pula soal ini. Karena buatku pergi belanja sayur aja sudah bisa jadi sarana piknik yang menyenangkan dan healing my self. Ngopi sama teman di sore yang cerah atau masak juga termasuk kegiatan piknik yang menyenangkan, karena aku gak pengen piknikku untuk impress orang lain atau supaya keliatan jadi anak gaul masa kini. Oke, aku bukan anak masa kini  memang :))
Oh iya, tambahan, semestinya bukan “Kamu kurang piknik” atau “Piknikmu kurang jauh” tapi “Kamu kurang bertemu dan mendengar cerita hidup banyak orang biar gak rese.”

You Might Also Like

1 comments

  1. Agree..kalo emang situ banyak likniknterus ngehina dan jumawa sama yg kurang piknik, apa itu nggak namanya rese???
    Cz, pernah ngalamin dibully tentang kurang piknik..kayaknya sih bercanda tapi sumpah bullying itu memang beban T_T

    ReplyDelete

Flickr Images