Aku ingin melipat jarak dan waktu saat mengingat rinduku begitu jauh

April 23, 2017

Membebaskan Pikiran (Walau Sejenak)

Semenjak Papa meninggal, mobil kesayangan, si Katy, otomatis jadi nganggur. Dia cuma dipanasin, tapi diam di tempat. Ya maklum, aku nggak bisa-bisa nyetir karena kurang latihan. Lagipula, posisi garasi rumah juga kurang menguntungkan sih, susah sekali mau mengeluar-masuk-kan si Katy kecuali yang sudah biasa nyetir mobil kelas pro.
Karena kurang gerak itu, Katy layaknya benda yang mati segan hidup tak mau. Nggak terhitung berapa kali dia mogok di saat-saat nggak tepat. Karena kurang maintenance, nggak heran lah kalau bannya gembos lah, mesinnya nganu, nginu. Belum lagi bayar pajak tahunannya yang mihil. Padahal dia juga udah kubalik nama jadi namaku dan biayanya gede. Ngok!
Maka dengan berat hati, aku dan Mama memutuskan melepas Katy, bulan lalu. Walau Katy adalah mobil peninggalan, dan pastinya sangat sentimentil melepaskan dia :’( Tapi ya gimana lagi, meskipun kayaknya ‘remeh’, perkara Katy ini juga cukup membebaniku (dan Mama) terutama dari sisi pembiayaan. Uang pembiayaannya nggak sedikit, tapi mobilnya juga nganggur. Lama-lama rusak pula, sementara untuk belajar nyetir lagi aku masih belum bisa mengatur waktu.
Singkat cerita, Katy akhirnya laku, jatuh di tangan orang lain. Semoga bisa dirawat dengan baik. Pasti kalau ketemu Katy di jalan (semoga belum berubah wujud ya!), aku bakal sangat emosional. Ya inget Papa, ya inget pakai mobil itu belajar nyetir sama Rendy, dimarahin, nabrak pot bunga, belajar ganti bannya sama Nuga, dsb dll …
Tapi aku jadi inget satu hal penting bahwasanya walau emosional dan berat, terkadang kita memang harus bisa melepas sedikit demi sedikit beban pikiran, dengan keikhlasan. Belajar melepaskan beban pikiran.
0 Notes  3rd June   ReblogShare

Tentang Jatuh Cinta Secukupnya

Aku berjanji tidak akan merutuki apapun tentangmu. 
Aku berjanji tidak akan berlebihan. Padamu, atau pada siapapun nantinya selama dia masihlah manusia.
Aku berjanji, aku akan jatuh cinta. 
Karena sebaik-baiknya jatuh cinta, selama itu kuletakkan pada manusia, rasanya rapuh, riskan dan tak bisa kupercaya.
Berbicara denganmu, secukupnya saja. Menanggapimu, secukupnya saja.  Aku akan jatuh cinta. Secukupnya saja.
*sesuatu yang sangat jarang sekali kutuliskan, soal perasaan-perasaanku terhadap seseorang. Tapi karena malam ini aku tidak sengaja menantang diriku sendiri, dan yeah … *
0 Notes  14th May   ReblogShare
Kalau ternyata emaknya ini cuma nyampah-nyampah mulu di Twiter dan blog :))
Jejak/warisan digital apa ya yang bakal ditemukan anak-anakku nanti tentang ibunya ini?
0 Notes  13th May   ReblogShare

(Katanya Generasiku) Generasi Strawberry

Beberapa hari yang lalu aku baca soal “Forbes 30 under 30″. Jadi setiap tahunnya Forbes merilis nama-nama anak muda usia under 30 yang sukses di berbagai dunia bisnis. Meski nggak baca semua profilnya, tapi memang yang termasuk dalam list-listnya adalah anak-anak muda yang keren. Pol.
Rata-rata mereka, iyaps, generasi milenial. Generasi yang sering dibilang etos kerjanya nggak bagus, manja. Pokoknya nggak ada baik-baiknya deh di mata dunia per-human resource-an. 
Aku jadi ingat beberapa tahun silam, ada seseorang yang mengatakan, generasiku ini adalah “generasi strawberry”. Jadi, generasi strawberry ini merujuk pada karakter anak muda kelahiran 1981-1991 di Taiwan yang nggak mau kerja keras, egois, lamban, manja dan nggak menurut sama nasihat orang tua. 
Penasaran juga sih, kenapa kok dibilang sebagai generasi strawberry. Ternyata merujuk pada karakter buah strawberry yang lunak, gampang hancur. Gak bisa dikerasin walaupun dikit. Dimiripin sama karakter kita-kita ini lah.
Kesannya generasiku ini gak ada bagus-bagusnya yah :”)) Sedih Buuu.. Masak iya sih generasiku diciptakan ampas doang, sari-sarinya udah diambil semua sama generasi sebelumnya? Macam semakin ke sini, generasinya makin gak fungsi. Yaelah, kasian juga emak-bapak kita yang melahirkan generasi ampas dong? :((
Lemme explain to you what I think abt this. Ironically, people who said that currently working on field with that “generasi strawberry”. And also, readersnya terbanyak adalah “generasi strawberry”. Menyedihkan mengetahui bagaimana dia menilai generasi yang menggerakkan roda perusahaannya sedangkal itu.
Menurutku, bukan dari segi generasinya, kalau memang ada hal-hal yang tidak beres, semata dari oknumnya. Nggak semestinya menggeneralisasi dan pointing his finger, “Nohhh, dasar generasi nggak ulet!” Secara nggak langsung, punya mindset seperti ini bakal terlihat dari bagaimana akhirnya generasi atasku menilai generasiku berinteraksi, memposisikan diri dan tanpa mereka sadari, mereka sendirilah yang bikin gap itu. 
Orang-orang yang selalu menganggap generasi milenial atau generasi strawberry atau apalah-namanya-kami-generasi-ampas-ini sebagai generasi yang nggak bisa diajak bekerja, selalu mengagungkan “usia” dan “lamanya bekerja” sebagai patokan “kita-lebih-pintar-dari-kamu-udah-deh-gak-usah-denial-dan-gak-usah-sok-sharing-soal-pengalaman-kamu.” Sad :(( Padahal sepengalamanku, tiap-tiap generasi ya punya caranya sendiri buat bekerja. Yang kutahu di sekitarku, teman-temanku bekerja remote dari mana saja, punya project dengan orang-orang luar kota bahkan luar negeri dan rata-rata juga pekerjaannya beres. Sepanjang kami diberi kebebasan untuk bekerja dengan cara kami dan kepercayaan, tentunya, ya semuanya bisa berjalan dengan baik. Toh, masih banyak orang-orang ‘tua’ yang tetap dipelihara walau nggak lagi bisa mengikuti perkembangan dunia dan cara kerja masa kini, dan akhirnya keteteran dan bikin yang lain gak bisa berlari. 
Umurku sekarang 26 tahun, masih generasi milenial. Tapi ngeliat mereka yang beda umurnya 3-9 tahun di bawahku, cara kerjanya sudah beda. Mereka bisa banget edit vlog sampai 2-3 video per minggu, bikin suatu konsep packaging brand segitu inovatifnya, aku ya ngowoh dan salut. Padahal kami ada dalam rentangan generasi yang sama lho :”D Kenapa akunya seperti udah gak punya daya bahkan untuk ngedit 1 video aja gak kelar-kelar? Hahahaha
Pemikiran-pemikiran yang menyudutkan generasi muda ini yang sebetulnya bikin roda dunia kerja atau dunia kreatif atau dunia apa aja, jadi susah berjalan mulus. 
Ya cobalah duduk bareng sambil ngopi-ngopi, ceritain soal bagaimana cara Anda dulu bekerja dan mana poin yang relateable diaplikasikan di masa kini, mana yang bisa di-tweak dengan cara kami yang sekarang ini ‘menguasai’ dunia kerja. Sama-sama tukar pikiran dan cari jalan yang solutif untuk menyelesaikan masalah. Berikan pemahaman.
Karena nanti pada saatnya generasiku juga akan punya “anak-anak” yang musti dibimbing, mereka juga punya caranya sendiri dan jangan sampai nanti generasi adik-adik dan anak-anakku “kepaten obor” karena takut berbagi keluh-kesah dan kesulitan-kesulitan dengan ‘seniornya’. Padahal seniornya punya pengalaman memecahkan masalah tersebut.
Herannya ya, Mamaku, yang usianya beda 40 tahunan dengan the-oh-so-called-generasi-strawberry ini pernah bilang, “Yo lek wis tuwek, gak produktif, gak iso ngikuti dunia zaman sekarang, yo leren ae. Mosok mandeg-i perubahan zaman. Arek2 sekarang luwih pinter, malah luwih gede semangat kerjane soale opo-opo larang dan angel.”
Oh yes, sip, Ma! 
*Tulisan ini just my two cents yah ;) Sengaja ditulis dulu di sini ndak di lapak sebelah karena tulisannya masih berantakan dan so impulsive.
0 Notes  13th May   ReblogShare

Jangan Pernah Membenci Orang Yang Telah Menghancurkan Hidupmu

… aku baca tulisan itu dari postingan Nicholas Sean Purnama
“Jangan Pernah Membenci Orang Yang Telah Menghancurkan Hidupmu”
… karena Tuhan selalu punya caranya sendiri mengajarkan manusia soal pengampunan, kesempatan kedua dan tahu diri … Nggak perlu kita yang “mengajarkannya” pada orang lain. Karena toh kebenaran itu selalu terbuka, tepat pada waktunya.
0 Notes  11th May   ReblogShare

Sore-Sore Santai

A piece of random blogpost
Happiness! Aku seneng karena hari ini bisa pulang cepat dengan cuaca cerah. Moodku tiba-tiba jadi cerah ceria juga. Jadi sepulang ngantor, langsung pulang ke rumah, mandi terus nyicil-nyicil nulis buat besok dan besok besoknya. Yeah, never ending working sih, tapi paling nggak rasanya enteng.
Aku selalu senang momen bisa pulang ke rumah pas langit masih terang :”D Walaupun kadang kesibukan dan segala ketemuan-ketemuan itu aku sendiri yang bikin, tapi aku paling suka nggak ngapa-ngapain di rumah. 
Nonton film ah~ Sesuatu yang jarang-jarang kulakukan :))
0 Notes  10th May   ReblogShare

Katanya, Kamu Ada Di Sini. Lagi.

Katanya, kamu ada di sini. Lagi.
Tapi rasanya tetap, seperti kamu tidak ada.
Pun waktu itu kita pernah bersama-sama cuma sebentar saja.
Kamu ada atau tidak pun, rasanya sama saja. Aku tetap sendirian. Kamu pun selalu merasa sendirian, karena aku mungkin tidak pernah bisa mengikuti langkah kakimu yang cepat dan terburu-buru, entah karena apa.
Kamu adalah orang yang selamanya menjadi penjaga kotak kayu rahasia besarku tapi tidak pernah bisa aku mengerti. 
Kamu tidak pernah berkenan membagi duniamu dan pemikiran-pemikiranmu kepada orang lain. Kamu punya dunia-dunia yang tak bisa aku selami dan tak pernah kamu ijinkan siapapun masuk ke dalamnya.
Jadi sekalipun aku rindu dan kamu ada di sini, aku tetap merasa, hanya, (katanya) kamu di sini, padahal nyatanya kamu (tak pernah benar-benar) ada di sini.
Semoga suatu hari kita berpapasan di waktu tak terduga dan seperti tak mengenal, supaya tidak ada sisa-sisa yang tertinggal dan mengganjal.
But I doubt whether you are real or fiction”
1 Notes  8th May   ReblogShare

Cerita Tentang Kehabisan Bensin Tepat di Depan Pom Bensin

Sebagai seorang penulis aku merasa gagal dengan judul di atas karena ada pengulangan kata “bensin” … Bensinception .. 
Aku dulu nggak pernah mikir namanya bensin motor (dan mobil) yang tipis. Ya semuanya karena diperhatikan sama Papa. Papa itu gak akan pernah rela lihat bensin motorku berkurang satu strip. Pasti langsung diisiin. Sampai-sampai Papa itu rajin ngisi jerigen sama bensin karena khawatir sewaktu-waktu aku kehabisan bensin terus lupa ngisi.
Sebelum hal itu terjadi, hyaaah, sang Tuxedo Bertopeng-ku pasti bakal langsung ke teras, ambil jerigen terus ngisi tangki motorku.
Setelah Papa nggak ada, aku baru tuh merasakan namanya kehabisan bensin. Pertama, karena aku pernah pada satu titik belum gajian, lupa ambil duit di ATM yang tinggal seuprit dan bensinku sampai tipis-pis-pis. Tapi ya untungnya masih di tengah strip merah jadinya masih aman lah buat tancap gas nyari pom bensin terdekat. Kedua, karena ceroboh tentunya. Ya kalau yang ini nggak usah ditanya lah ya, aku selalu identik dengan ceroboh, grusa-grusu dan pelupa.
Beberapa waktu yang lalu, kondisi gerimis dan benar-benar aku lupa ngisi bensin. Aku semacam menyepelekan sih, ngelewati pom bensin beberapa kali tapi merasa masih aman-aman saja. Sampai akhirnya sudah agak malam dan motorku sudah di pucuk ambang batas kehidupannya. Sementara itu, pom bensin terdekat dari lokasiku saat itu cuma yang di dekat stasiun. 
Seriusan, rasanya sport jantung pol, aku nggak membayangkan lah gerimis-gerimis gitu, malam-malam, harus dorong motor. Iya kalau motornya mogok dan ada yang jual bensin ketengan di sekitar situ. Kalau nggak? Udah nangis paling ya aku :”))
Aku pacu motorku dengan harap-harap cemas. Dan yak, tepat di depan pom bensin stasiun itu, motorku mati. Kehabisan bensin. Tapi aku nggak perlu dorong motor. Huhuhuhuhuhuhu … Aku sampai mau nangis saking leganya. Langsung kukasih minum itu Poppy sama bensin full, sampai kenyang!
Tuhan memang baik! Akunya aja yang ceroboh :”))
0 Notes  6th May   ReblogShare

“Kamu Masih Sama Seperti Dulu”

Beberapa hari yang lalu, aku ke swalayan mau belanja daging. Pas di section daging, ada suara manggil-manggil. Ternyata itu Vike. Vike adalah temanku sejak SD sampai SMP. SMA kami pisah sekolah dan kami kehilangan kontak.
Kami ketemu dengan hebohnya, meskipun aku sempat melongo dan nggak menyangka Vike masih ingat sama aku. Kami memang nggak terlalu dekat, tapi kami pernah beberapa kali sekelas. 
“Wah, Winda. Kamu kok masih sama kayak dulu sih! Aku denger katanya kamu jadi penulis ya sekarang.”
Aduh, aku senyam-senyum gak jelas. Seandainya aja Vikenya tahu aku nulisnya remeh-remeh hahahaha … 
Terus aku jadi inget, beberapa bulan yang lalu ketemu teman kuliah di warung nasi goreng depan Dempo. Putu, namanya, selepas kuliah dia pindah ke Bali sama suaminya. Sekarang sudah punya anak nih si Putu, padahal dulunya di kampus glesat-glesot nunggu kuliah pagi sambil terngantuk-ngantuk. Pas dia dengar aku sekarang kerjanya “nulis”, dia langsung bilang, “Wah, kamu ini tetep yoooo… Gak berubah! Ya gayamu, ya kerjaanmu sak line sama keahlianmu.”
Hampir sama juga kejadiannya, seorang teman SMP yang lamaaaa banget tidak ketemu, tapi berteman di Facebook denganku tiba-tiba komen pas aku post video nyanyi, “Winda, aku kangen. Kamu tetep ya dari SMP suka nyanyi dan menulis.”
Nyanyi dan menulis. Orang-orang kenal aku karena 2 hal itu walaupun aku nggak punya expertise di kedua hal itu.
Kalau misalnya gak punya 2 hal itu, kira-kira orang kenal aku karena apa ya? Karena aku suka makan? HAHHAHHAHAHAHA
0 Notes  3rd May   ReblogShare

Kenapa Nggak Nyanyi Lagi?

Kemarin malam, di parkiran RS Persada.
Winda: “Wih aku lho lama nggak nyanyi.”
Mas Astu: “Iya lho kamu, opo o gak nyanyi lagi?”
Banana: “Nonik iki kok …”
Winda: “Hahahaha gak tau, aku akehan pegang sutil ambe ngetik daripada gitaran.”
Kemudian ada mention masuk ke Twitter, dari seseorang yang follow aku.
Mwahahaha .. Pertanda kah ini aku harus kembali merawat Thomas, Archie dan Ernestito yang berdebu sekian lama?
0 Notes  1st May   ReblogShare

Aku Rindu Menulis.

Ya iya, setiap hari aku memang menulis. Menulis untuk menyambung hidup. Nggak di pekerjaan utama (oh ya, sekarang aku ‘menulis’ proposal sih), di pekerjaan sampingan ataupun di blog sebelah. 
Lha, nulis terus kenapa masih rindu?
Karena aku nulisnya bukan menulis apa yang ada dari hatiku. Padahal dulunya aku jadi ‘pintar’ menulis karena aku suka menulis curhatan. Mungkin dari 10 ribu jam-ku, seperempat awalnya aku mulai dengan nulis-nulis remeh. Tapi justru itu latihan terbaikku sampai akhirnya aku ada di step ini.
Kayaknya benar gitu kata orang-orang, rutinitas membunuh kreativitas. Aku menulis berdasarkan standar dan pola yang sudah ada. Cerpen, puisi, fragmen-fragmen, review musik, opini … Hal-hal yang jarang sekali aku sentuh kurang lebih 3 tahun belakangan ini.
Aku jadi takut bodoh. Asli. Takut kreativitasku tergerus. Bahkan, 3 tahun belakangan ini aku sudah gak pernah lagi menulis lagu karena aku susah memulainya. Menggabungkan musik dengan lirik jadi tantangan buatku yang tiap hari nulis artikel tips. Duh!
Saking kangennya, aku sampai bebersih Tumblr ini beberapa hari yang lalu. Ngapus-ngapus postingan masa lalu, menggantinya ke private post. Sebetulnya ini sudah aku lakukan sejak Januari dan aku sok-sok-an pengen ikutan challenge 365 days writing challenge. Tapi ya balik lagi, komitmen adalah bagian tersulit dalam kegiatan ini hahahah .. Jadi aku gugur di hari ke-5 challenge tersebut.
Nah, bulan ini satu kerjaan freelanceku berakhir. Puji Tuhan, digantikan dengan pekerjaan freelance lainnya, tapi tidak berhubungan dengan menulis kok. Jadi aku alokasikan waktu, tenaga dan pikiranku, menggantikannya dengan mengasah lagi kemampuan linguistikku (atau kemampuan ‘curhat’ku) dengan free writing seperti ini.
Sumpah aku kangen nyatir dengan tulisan yang elegan! :))
1 Notes  26th April   ReblogShare

“Kamu Kurang Piknik” vs “Kamu Banyak Piknik Kenapa Masih Rese”

Sepertinya sejak 5 tahun belakangan ini, saran yang paling banyak didengar untuk membalas para “haters” (katanya) adalah dengan “Kurang piknik lo!”, “Piknik lo kurang jauh!”, “Makanya piknik biar nggak rese.”
Saran yang menurutku menyebalkan karena mau piknik itu buatku justru merepotkan. Satu, ngatur cutinya. Dua, kalau mau pelesir baisanya aku malah harus kerja dua kali lipat lebih berat dari biasanya untuk menabung pekerjaan saat aku nggak bisa pegang laptop sama sekali selama beberapa hari. Ya, intinya sama saja sih :))
Aku mungkin termasuk golongan orang yang gak setuju dengan keagungan ode-ode yang didengungkan kaum-kaum “my-trip-my-adventure”. Ode-ode itu antara lain:
1. Leave your job and travel more
Unless your job are travel agent, steward/ess, pilot or travel ambassador, kamu ngayal kalau meninggalkan pekerjaan demi memuaskan hasratmu traveling. Soalnya, sampai hari ini belum ada tiket bepergian yang bisa dibeli hanya dengan mengedipkan mata kaya Jinny oh Jinny. Wis ta lah ngono kuwi iso-isone artis Tumblr ae kok .. 
2. Kalau ada orang rese, artinya dia butuh piknik
Rese ya rese aja, mungkin karena seseorang tidak cocok secara ideologi maupun cara hidup dengan kita, mungkin karena ada sesuatu di hatinya yang nggak ‘nyampai’ terhadap orang lain. Yang harusnya dibetulkan bukan dengan piknik, tapi dengan introspeksi. Pulang piknik, apakah dia berkurang resenya. Aku rasa cerita begini jarang terjadi.
Ada orang-orang yang banyak piknik, tapi masih rese. Terus kalau kaya gitu … *ngilang* 
Beberapa orang ribet mulu traveling only to impress their society and his/her circle. Biar dikata anak gaul, backpacker/traveler ‘kan salah satu sematan status instantly menaikkan level kekerenanmu di mata Instagramers sampai 30 persen. Tapi, yah, habis traveling kalau masih rese atau justru menimbun hutang di mana-mana, lalu buat apa piknik?
Gak semua orang bisa dengan mudah serta-merta piknik, kalau yang dimaksud adalah piknik jalan-jalan keluar kota, ke gunung ke nganu ke nginu. Karena tiap orang punya prioritasnya masing-masing. Membawa tubuh keluar dari rumah saja, bagi sebagian orang adalah hal yang tak mudah. 
Kata temanku yang pernah ‘piknik’ dengan bersepeda dari Malang - Gunung Rinjani seorang dini, ‘piknik’nya membawa kepada pengalaman spiritual mengenali dirinya sendiri. Sepulang liburan, dia banyak dapat bahan perenungan diri dari perjalanan gila seorang dirinya itu.
Memang balik lagi personal sih, aku nggak pengen berdebat pula soal ini. Karena buatku pergi belanja sayur aja sudah bisa jadi sarana piknik yang menyenangkan dan healing my self. Ngopi sama teman di sore yang cerah atau masak juga termasuk kegiatan piknik yang menyenangkan, karena aku gak pengen piknikku untuk impress orang lain atau supaya keliatan jadi anak gaul masa kini. Oke, aku bukan anak masa kini  memang :))
Oh iya, tambahan, semestinya bukan “Kamu kurang piknik” atau “Piknikmu kurang jauh” tapi “Kamu kurang bertemu dan mendengar cerita hidup banyak orang biar gak rese.”
6 Notes  26th April   ReblogShare

Jika Kau (Tak) Ingat Aku

Earworm : What song is stuck in your head (or on permanent rotation in your CD or MP3 player) these days? Why does it speak to you? 
Akhir-akhir ini aku lagi suka mendengarkan lagunya Andre Harihandoyo and Sonic People yang judulnya Jika Kau Ingat Aku. Sebetulnya lagu ini tidak sedang mewakili perasaanku belakangan ini, tapi mendengarkannya saat mau tidur memang cukup sukses membuatku terhanyut dan misuh “BRENGSEK AH LAGU INI!”
Ini nih, brengsek dalam artian tidak sebenarnya, karena diucapkan dengan sayang :”)
Terkadang kita punya perasaan terhadap seseorang yang susah sekali diungkapkan. Jangankan diungkapkan, dideskripsikan saja susah. Susah diingat juga datangnya, tiba-tiba saja sudah hubungan dan segala pernak-pernik manisnya itu menghilang. 
Padahal, rasanya masih rindu, rasanya masih ada harapan. Tapi yang di depan mata sudah tak bisa dijangkau lagi. Ya begitu sih hubungan antar manusia, tidak pernah bisa diduga, seperti yang sudah-sudah. Aku yakin, setiap kita pernah punya kisah yang hampir mirip soal ini, hanya saja kadarnya yang berbeda-beda.
Meski menghilang dari pandangan, semoga masih diingat …
“Jika kau ingat aku, 
Bawa ‘ku tidur sampai pagi 
Berimajinasi 
Suara kipas, deru tak henti 
Membabi buta mencabik hati 
Hanya gitarku yang setia temani 
 Kembalilah, cintaku datang pulang 
Sumpah mati aku rindu kepadamu 
Sadarilah, aku yang selalu sayang 
Tujuh hari dalam seminggu aku rindu 
Rasa 'ku tak mampu 
Bayangkanlah, jika kita bersama 
Hidup ini sementara 
Seharusnya tanpa lara”

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images